27th March 2026

Tentang Keandre

Sejak kecil, Keandre  selalu dianggap anak “biasa.” Nilainya sedang-sedang saja, hobinya tidak jelas. Kadang ikut main bola, kadang nongkrong di warnet, kadang ngelucu dengan jokes receh yang cuma dia sendiri yang ketawa. Orang tuanya sering bilang:


“Nggak apa-apa Ken, kamu nggak harus jadi yang paling pintar. Yang penting semangat. Nanti arahnya ketemu sendiri.”


Masuk kuliah di Jakarta adalah awal petualangan barunya. Tapi kuliah justru membuka satu masalah besar: UKT. Entah kenapa, setiap semester, Keandre selalu jadi langganan daftar tunggakan. Admin kampus sampai hafal wajahnya. Skripsi pun tak kunjung jelas, tapi semangat nongkrong dan ketawa-ketawa selalu penuh.


Karena merantau, Keandre harus ngekos. Dan di situlah ia bertemu Miskah, ibu kos yang aneh sekaligus eksentrik. Miskah punya aturan-aturan kos yang tidak masuk akal: jam malam khusus untuk ayam peliharaan, larangan keras nonton sinetron setelah jam 10 malam, dan aturan “dilarang masuk kamar sambil bawa galon, kecuali galonnya berisi teh manis.”


Awalnya Keandre sebal. Tapi lama-lama, ia justru nyaman. Miskah dengan segala keanehannya bikin suasana kos jadi cair. Satria yang gampang stres soal kuliah menemukan pelarian: ngobrol absurd dengan ibu kosnya. Dari situ, keduanya jadi dekat.


Waktu kos Miskah akhirnya tutup karena bangunan lama dijual pemilik tanah, Satria sudah lebih dari sekadar anak kos. Ia tetap sering datang, nongkrong, dan curhat. Bahkan, saat kenalan dengan Kamal — teman kuliahnya yang aktivis tapi mulai jenuh dengan dunia kampus — Keandre malah mengajaknya mampir ke rumah Miskah. “Lu harus kenal Bu Miskah, orang paling absurd yang pernah gue temuin. Lu pasti suka.”


Begitulah lingkaran kecil itu terbentuk. Miskah, Keandre, Kamal, dan kemudian Juna, cowok misterius yang sering ditemui di warung kopi dekat kosan Miskah. Mereka tak pernah berencana jadi sahabat, tapi obrolan ngalor-ngidul tentang hidup, konspirasi receh, dan tawa-tawa random membuat mereka terus kumpul.


Hingga suatu ketika, datanglah kabar mengejutkan: organisasi rahasia bernama MATAKOS (Masyarakat Tanggap Kosan) menugaskan mereka membuka sebuah kosan baru, dengan misi tersembunyi membangkitkan jiwa sosial masyarakat.


Keandre yang biasanya malas, justru paling semangat. Dialah yang usul nama “Nivriti” setelah nonton video motivasi di YouTube. Semua mengira ia bercanda, tapi nama itu melekat.


Hari-hari di Nivriti membuka lembaran baru untuk Keandre. Ia jadi pengusul ide-ide absurd yang membuat penghuni saling dekat: lomba masak resep ngawur, kerja bakti sambil karaoke dangdut, bahkan permainan-permainan konyol yang tanpa sadar membuat orang saling peduli.


Awalnya, ia hanya merasa dirinya badut yang tak berguna. Tapi ketika melihat para penghuni berubah—jadi lebih kompak, saling tolong, dan bahkan peduli pada warga sekitar—Keandre sadar: mungkin inilah arah yang dulu dicari orang tuanya.


Untuk pertama kalinya, ia merasa hidupnya punya makna.